Jumat, 07 Desember 2012

What My Mother Taught Me (part 1)


What my mother taught me...
Yesterday my sister posted “What my father taught me” in her blog. And I just wondered what my mom taught me since I born till today I’m standing far away from her.
Mom.
An unbelievable person, like a superwoman. She is wonderful. She’s my everything, my reason why I’m here in Bogor, and her happiness is my future dream.
There were some conditions when I had a problems in my class, my friends got me so damn depressed and what my mom said to me when I cried was “be strong! Don’t be like this. Don’t be too much perceive unimportant people..”. She said it in a little harsh mode, haha :D but really, she taught me to be a strong girl. Crying is OK, but be mature.. I’m maybe still not 17 yet, but I don’t like being a crybaby.
Second, when adzan is heard, my mom always screams loudly from my living room “Nduk… Ayo sholat berjamaah….” And I’d be “Err, mom…” with this kind of emotion -_____- kekeke ^^ She taught me to pray together on time. And this is absolutely the power of islam: Jama’i (togetherness), right?

Minggu, 02 Desember 2012

guiltiness


Minggu, 2 Desember 2012
Jangan pernah ngecewain Teh Zamroh lagi, bikin Kak Vivi nangis lagi, bikin Febi sama Eci sesenggukan lagi, JANGAN :”)
Itu adalah janji yang aku tulis di dinding samping tempat tidurku baru semalem, dalam kondisi masih berlinang air mata, badan gemetar karena rasa bersalah. Padahal insiden yang semalem kejadian di astri itu sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama aku, tapi entah kenapa ngeliat kak Vivi cerita di depan lobi sambil nangis bikin pertahananku ikut roboh. Aku nangis bahkan jauh lebih parah daripada kak Vivi sendiri.
Aku sampe lupa, kapan terakhir kali aku nangis sampe sesenggukan kaya gitu, sampe pusing kepala dan mata kerasa pedes banget bahkan sampe keesokan harinya mata sembab dan perut kerasa lapeeerrr banget. Dan ujung-ujungnya aku flu-pilek sekarang. Alhamdulillah :)

Minggu, 11 November 2012

Dilemma


“Kak.. bagi seribuannya kak…”
Begitu kata salah seorang anak kecil bertubuh kurus meminta sedikit sedekah dariku. Dan malangnya, aku hanya bisa menjawab dengan gelengan disertai senyum samar tipis yang kemudian disambut pahit oleh anak kecil tersebut.
Dalam hati, miris sekali rasanya melihat betapa menyedihkan nasib negeriku, Indonesia. Anak-anak kecil yang entah dapat ilmu darimana, meminta-minta dengan cara yang memalukan di pinggiran jalan dan tempat-tempat umum.
Seketika itu juga, hatiku tergerak untuk berdoa padaNya, memohon;
“Ya Allah, merdekakanlah seluruh rakyat di negeriku yang tercinta ini.. Jangan ada lagi peminta-minta seperti ini, peliharalah kami semua dalam naungan kekayaan hati dan materi, karuniai kami pemimpin yang amanah dalam menjadi khalifah di bumi ini, lindungi kami setiap waktu, jaga kami semua dalam kasih sayangMu dimanapun ya Rabb…”
Dalam diam, sambil menunggu sang kakak datang dari Bekasi (saat itu aku sedang ada di Stasiun Bogor) tanpa sadar aku menitikkan air mata. Kalau bahasa gaulnya mungkin nyesek, sekaligus penasaran. Bertanya-tanya dalam hati, siapa yang mengajari anak-anak kecil ini ngemis?
Tidak hanya sekali-dua ini aku lihat anak-anak kecil (terlebih sejak saya hijrah ke kota besar) berlalu lalang di pagi hingga bahkan malam hari untuk mencari nafkah dengan cara yang tidak lazim itu. Mereka berlarian kesana-kemari mengantongi beberapa lembar dan receh uang hasil ngamen atau meminta-minta di jalan (bahkan masih berseragam sekolah). Ingin sekali rasanya memanggil mereka, berdialog atau kalau memungkinkan memediasi mereka untuk tidak lagi melakukan hal-hal demikian. Tetapi yang ada di bayanganku adalah kondisi seperti ini.
Kalau dipanggil, mereka pasti akan mengira akan diberi sedekah olehku.
Kalau ditanya, “kenapa ngemis?” pasti jawabannya adalah karena mereka BUTUH.
Kalau dilarang, pasti jawabannya sama “lalu kami mau dapat makan darimana?”
Sedangkan di sisi lain, mereka mengumpulkan uang itu pada Ayah-Ibu mereka. Kemudian parahnya, Ayah-Ibu mereka menggunakan uang itu untuk membeli rokok, berjudi, membeli pulsa, dan lain-lain hal yang tidak berguna dibandingkan menyekolahkan mereka!
Astaghfirullahaladzim..
Dulu, jujur, aku sering beberapa kali memberi mereka sedikit uang. Alasannya jelas, karena iba. Tetapi lama kelamaan, ketika kakakkku melihat aku mengasihani mereka, kakakku dengan logis menjawab “Jangan memberi pengemis itu uang, terlebih kalau pengemisnya anak-anak. Mereka nanti jadi terbiasa dan ketergantungan untuk mencari nafkah dengan cara itu. Gampang banget, tinggal ngathung udah dapet duit…”
Ya, jawaban kakakku ada benarnya. Tidak baik membiasakan mereka meminta-minta seperti itu.
Tapi….
Ya Allah, sungguh dilemma yang berat. Ingin sekali rasanya menagih langsung pada para pemimpin itu pasal 34 ayat 1 UUD 1945, 

"Fakir miskin dan anak-anakyang terlantar dipelihara oleh negara."

serta mengingatkan tentang QS Al Baqarah 30.

"Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Tidakkah mereka takut diminta pertanggungjawaban akan anak-anak yang mengemis tadi nanti di akhirat? Wallaahu alam. Biarkan Allah Yang Mahaadil yang menjadi hakim bagi mereka semua kelak…

Minggu, 14 Oktober 2012

Keluarga Baruku :)


Alhamdulillah, capek banget seharian dari pagi sampe menjelang sore tadi abis outbond bareng anak-anak Magenta dan kakak-kakak BEM TPB 48!
Tapi di balik itu semua, aku ngambil banyak pelajaran hari ini, dan pelajaran itu udah bsia menutup semua rasa capek yang aku rasain tergantikan dengan rasa senang dan bersyukur atas nikmat-Nya yang sungguh, tiada bandingan.
Dari awal masuk dunia perkuliahan, aku memang udah punya rencana buat gabung ke BEM. Melanjutkan hobi berorganisasi dan mengasah kemampuan diri setelah 2 tahun vakum dari OSIS :D
Dan kesempatan itu dating: OPEN RECRUITMEN calon peserta magang BEM TPB IPB angkatan 49 yang acaranya berjudul…. MAGENTA! (Madani Regeneration Training)
Setelah ngumpulin berkas dan lolos, saatnya wawancara. Selow sih, optimis walaupun pas ditanya soal pengetahuan tentang ke-IPB-an masih banyak yang belum ngerti. Eh taunya lolos juga.. dan masuk ke departemen Fokustik (Informasi, Komunikasi, dan Jurnalistik) yang entah kenapa jadi pilihan pertamaku saat kemarin daftar ke BEM.
Aku suka nulis emang, bahkan aku merasa enjoy dalam merangkai kalimat pas penyusunan proposal atau laporan kegiatan/pertanggungjawaban. Dan kebetulan Allah menurunkan bakat menulis itu sejak dari Kakekku (alm) dan Ayahku, yang keduanya merupakan jurnalis hebat sepanjang masa ^^
Singkat cerita, setelah beberapa kali ada tugas ini itu bareng anak-anakk fokustik, aku jadi mulai merasa nyaman sama mereka; Eko, Fahri, Haekal, Catur, Pampam, Rahma, Zia, Lae, Ella, Navi, Widuri, dan Winda. Padahal awalnya aku udah agak nggak sreg duluan entah kenapa alasannya.. Serasa pengen pindah ke departemen Iben, PSDM :O

Tapi rasanya, aku udah cocok (bahkan terlalu nempel) sama anak-anak fokustik yang kocak dan gila abis ini. Yang pada suka ngeledek, bercanda, ngotor-ngotorin tempat kemudian membersihkannya kembali, dll. Ada Eko ‘alay’, Navi ‘bawel’, Ella yang lemot *ups*, Zia yang caem, Widuri yang jago yel-yel, dan semuanya yang jauh lebih hebat daripada aku.
Sejak dapet kabar kalo Laporan Kegiatan departemen kami menjadi yang terbaik, aku jadi makin semangat buat mengabdi buat departemen ini. Dan aku berharap semua proposal ‘kebut-semalam’ kita yang unyu-unyu kemarin juga manjadi salah satu yang terbaik daripada yang lainnya, amin.
Membahas berakhirnya 1 bulan magang di BEM bareng anak-anak Magenta hari ini, aku ngerasa dapet ilmu yang cukup banyak dari magang ini, dari outbond dan games yang aku jalanin seharian ini. Mulai dari main game 1 – 5, mandi lumpur, merayap di kubangan, nyelem di ceruk, nyari koin di lapangan lumpur, sampe saat shock therapy atau kata temenku disebutnya militansi pas kita digojlok *ups* dimarah-marahin sambil berendem selama 30 menit di air sungai yang dingin, semuanya tuh bermakna banget. Dan meninggalkan kesan yang dalem meskipun jujur, kelompok aku (bukan 1 departemen) banyak kalah hari ini.
Dari yang awalnya suka kesel ama ketua Magenta yang kerjanya *maaf* kurang memuaskan, pas tahu dia diceburin setelah tanpa aba-aba didorong sama kakak kelas, rasanya ikut hancur banget. Apalagi waktu dia minta maaf sambil nahan nangis *secara dia cowo ya* itu tuh udah deh.. pada nangis semuanya. Padahal sebelumnya kita semua memang mengkritik kinerja dia dengan terang-terangan, menunjukkan ketidakpuasaan kita pada dia, meminta ketua diganti…
Pada akhirnya kami semua sadar, kesalahan ketua itu kesalahan kami juga. Kesalahan bawahan yang nggak mengingatkan dia, yang nggak mengarahkan dia, yang nggak mendukung dia..
Astaghfirullahaladzim…
Sekarang aku mau minta maaf juga deh buat semua temen-temen Magenta, apalagi fokustik, yang pernah aku sengakin mungkin, yang pernah aku repotin..
Dan makasih juga buat SEMUA peserta Magenta 2012, mulai dari Fajar, Sunarya, Iben, Fahri, Eko, Rizal, Reza, Danang, Afif, semua kadept lain yang nggak kesebut, temen-temen Fokustik, PSDM, Advokasi, BOS, Kastrat, Niken, Mey, Ulvi, Adhe, Dea, Dhirah, semuanyaaaaaaa aku mau bilang makasih atas pelajaran berharganya dan kotor-kotornya hari ini :) Semoga Allah mepersatukan kita lagi di BEM TPB IPB 49 yang sesungguhnya dengan kulitas diri yang jauh lebih baik, lebih matang, siap menerima amanah dan tantangan, serta mengambil resiko besar dalam semua keputusan.
Dan semoga PEMIRA tahun ini lancar, sehingga TPB bisa meraih kembali piala bergilir OMI 2013 nanti di tangan Ketua yang TEPAT! ;)
Amiin ya robbal alamiin..
                                  

Jumat, 12 Oktober 2012

hubungan fenomena pangkas rambut dan patah hati

Pernah nonton k-drama dream high?
Buat kamu para k-popers pasti pernah dong yaa.. dan pasti di antara kalian semua yang dijadiin tokoh favorit adalah Sam Dong atau nama aselinya Kim Soo Hyun.
Kalo iya, coba sebutin apa alesan kalian bisa jatuh cinta sama dia?? Padahal, kan awalnya dia tuh kamseupay-ndeso-kampungan-najongski banget? inget, nggak??
Jujur, aku sendiri juga kesengsem sama tampangnya si Sam Dong selama beberapa episode dream high. Karena apa? Ya, karena dia..... err, potong rambut. Dan parahnya, rambutnya dipangkas dikit aja kegantengannya meningkat 200%. Bukan begitu saudara-saudara?
Tetapi di balik itu semua, yang menjadi alasan kenapa si Sam Dong pangkas rambut dan mendadak-jadi-ganteng adalah; KARENA DIA PATAH HATI.
Aku nggak tahu, pas pertama kali nonton dream high aku udah ill feel duluan memang. Mengingat sebelumnya aku nonton The Moon that Embraces The Sun lebih dulu, dimana Kim Soo Hyun kekasepanna mencapai titik kulminasi tertinggi #ehem
Eh taunya sama kakakku dikasih bocoran, "nanti makin lama dia makin ganteng.. soalnya dia pangkas rambut."
Aku jawab "kenapa emang potong rambut? Soalnya dia mau debut?"
Kakakku pun secara tidak sengaja membocorkan jalan cerita dream high seketika itu juga "karena dia patah hati.."
HEEEEEEE?????
Apa hubungannya patah hati sama pangkas rambut? Pasti kalian semua bertanya-tanya, kan?

Rabu, 26 September 2012

Kucing Asrama, riwayatmu kini...


Hmm.. barusan teriris hatiku karena ngelihat ada anak kucing 4 ekor di kardus dekat bak sampah asrama. Mereka kotor, sejak lahir nggak pindah tempat, dan induknya pun kelihatannya masih kecil (remaja) tapi sudah bunting. Hiks..
Akhirnya dengan serta merta aku ngambil tulang ayam bekas makan kemarin, aku kasih ke mereka. Juga udang dan ikan wader goreng yang dibawain Ibu dari rumah dan masih sisa banyak aku kasih ke mereka. Berharap bisa mengenyangkan perut mereka sejenak at least sampe nanti siang..
Miris sebenernya, ngeliat keadaan kucing-kucing asrama yang masyaAllah.. kotor, dekil, sakit-sakitan, suka mencuri, tidur di dekat sampah. Padahal IPB terkenal dengan fakultas Kedokteran Hewan terbaik se-Asia Tenggara, tetapi kenyataannya seperti ini.
Pas balik ke kemar, ketemu teman sebut saja namanya X. Dia nanya sama aku "kenapa?" 
"Abis ngasih makan kucing.. Sedih banget ngeliat mereka....... *nyeritain soal kucing tadi*"
Setau aku, selama ini, teman saya yang X ini cukup peduli dengan sekitar, mengingat dia pun mahasiswi Kedokteran Hewan (KH). Dia juga pernah menyampaikan alasan mengapa memilih jurusan tersebut karena ingin melakukan banyak aksi penyelamatan hewan dengan visi misi yang cukup bagus menurutku.
Eh nggak taunya, mendengar saya bercerita soal kucing tadi, sampe hampir nangis, dia malah menjawab "udah nggak usah nangis, lebay banget deh.."
Seketika itu juga, dengan tetap menjaga sikap, aku keluar dari kamarnya dan menghela nafas.

Senin, 10 September 2012

Mereka satu-satunya :)


“Nduk, kon ya jik eling pas mulih skul trus nang ngarepe wayer. Kringetmu mbok ambok2e ibu?”
“Nduk, kamu inget pas pulang sekolah terus di depan kipas angin. Keringatmu dibau-bauin ke Ibu?”
Sebuah sms dari Ibunda yang baru aku baca dini hari tadi tiba-tiba membuat hatiku trenyuh. Aku nggak tahu ini bener atau engga, tapi aku ngerasa Ibu kangen sama aku.. :) #pede
Biasanya, semenjak aku di Bogor, yang suka kangen duluan itu aku. Aku suka sms Ibu duluan, dengan 1 kata doang : “Ibu…” gitu, terus ibu pasti uda ngerti kalo aku lagi homesick atau ada masalah.
Hmm.. sebenernya, pagi ini cuma lagi pengen ngeshare cerita aja berhubung belum nemuin sahabat haha, jadi enakeun kalo cerita ke blog. Lagian aku BT sama anak kamar yang setauku selama ini nggak dan nggak mau peduli sama aku :) #ngenes
Balik ke sms Ibu tadi pagi, seketika itu juga aku nangis kangen rumah. Ngadu sama Allah, betapa mengecewakan dulu semua kualitas diriku yang bisa dibilang sangat kurang. Baktiku sama orang tua yang naudzubillah sangat minim. Prestasiku yang dibanding kakak-kakakku, temen-temenku, masih jauh di bawah mereka semua.
Padahal tujuan hidupku selama ini selain buat menggapai surga-Nya, aku cuma pengen satu hal: bahagiain orang tua, membalas jasa budi baik mereka, mengukir tangis haru dan senyum bangga di wajah mereka.
Aku sekolah tinggi, nyari kerja, ngeraih cita-cita, itu tujuan utamanya adalah mereka, kebahagian orang tuaku.