Selasa, 15 Maret 2016

6 Alasan Kenapa Suka Korea



Hai! Sore ini aku mau sedikit berbagi sama teman-teman tentang satu topik yang nggak pernah ada habisnya. Well, belakangan aku lihat semakin menjamur demam korea-korea-an terlebih sejak drama bergenre romance Song Joong Ki tayang di channel kbs world. Teman-teman yang semula biasa saja bahkan nggak suka sama hal yang berbau korea jadi ikutan menikmati kegantengan Kapteen Yoo Si Jin, bukan?
Kalau teman-teman berteman facebook, instagram, line, atau bbm sama aku pasti tau banget kalau aku juga turut menikmati gelombang kpop yang melanda pemuda Indonesia. Yeah, berikut beberapa alasan kenapa demam korea ini sungguh menarik:
1.      Drama dengan alur cerita yang sulit ditebak
Drama korea kebanyakan mengangkat genre yang unik dan jalan cerita yang sulit ditebak. Tidak seperti sinetron Indonesia yang setiap episodenya bisa kita ramal, drama korea memiliki alur cerita yang seringkali mengejutkan. Selain itu, drama korea juga tidak melulu soal percintaan. Genre yang diangkat sangat beragam mulai dari keluarga, kedokteran, militer, action, sampai hantu. Ya romance seringkali dijadikan bumbu pemanis yang membuat penonton penasaran.

(drama nasionalis-romantis, Descendants of The Sun)
Ohiya, satu hal lagi. Drama korea tidak bertele-tele. Umumnya hanya 16-20 episode saja (selalu kelipatan 4: 4, 8, 12, dst). Jarang banget ada drama yang episodenya puluhan, dan tidak pernah sampai ratusan.
1.      Aktor dan penyanyi yang detraining bertahun-tahun lamanya
Pernah dengar Super Junior? Atau SNSD? Salah dua dari sekian ratus boy/girl band yang ada merajai K-pop itu tidak terkenal secara cuma-cuma. Mereka dilatih oleh agensi hiburan selama bertahun-tahun. Selama berlatih, mereka disebut sebagai ‘trainee’ dan diharuskan untuk pergi ke kantor agensi setiap harinya sepulang sekolah/kuliah. Jangan salah, pendidikan bagi mereka masih harus diutamakan. Bagaimapun, artis korea adalah lulusan universitas. Sama seperti mahasiswa pada umumnya, ada yang lulus tepat waktu da nada yang tidak. Tapi, perbedaannya dengan kita adalah mereka sudah bisa berkarya di bidang keahlian masing-masing and even make much money from their own job! Keren, kan?
Indonesia sering sekali menjadikan seseorang sebagai artis dadakan hanya bermodalkan youtube, liat saja Nurman Kamaru atau Shinta Jojo. Karena terkenal dengan cara instan, maka karir mereka di dunia hiburan pun hanya berlangsung dalam waktu singkat. Hal ini sangat kontras dengan artis-artis di Korea yang sejak masih sangat dini dibiasakan untuk berlatih maksimal untuk menuai hasil yang luar biasa nantinya. Bagi para trainee, kerja keras ini masih  belum juga cukup. Banyak artis yang tidak jauh berbeda dengan pemuda korea pada umumnya, yang masa sekolahnya memilih untuk kerja paruh waktu mulai dari penjaga minimarket, guru les, atau pelayan kafe.
2.     Manajemen yang profesional
Setiap aktor dan penyanyi di Korea dinaungi oleh agensi hiburan yang me-manage kegiatan mereka dengan baik. Bahkan, sebagian besar artis boy/girl band diharuskan untuk tinggal dalam 1 asrama/mess selama mereka berkarir. Hal ini bertujuan untuk memudahkan mobilitas dan meningkatkan rasa kekeluargaan mereka. Maka jangan heran, tidak hanya artis tetapi juga agensi mendulang kemashyuran dan keuntungan dari karya artisnya. Tidak hanya itu, agensi juga cukup handal dalam mengelola konflik para artis naungannya, baik skandal narkoba, masalah keluarga, pasangan, maupun ras. Sebut saja SM, YG, JYP, Wollim Entertainment yang berhasil menentukan nasib karir para artis yang terikat kontrak dengan agensi mereka.
3.     Tidak pernah kehilangan jati dirinya
Korea sangat kental akan budaya yang khas. Mereka sangat bangga dengan kekayaan budaya dan alam yang dimilikinya. Oleh karena itu, mereka membungkus semua kekayaan untuk kepetingan pariwisata dengan sangat baik. Mereka ‘mengundang’ wisatawan lagi-lagi lewat karya anak bangsa; apalagi kalau bukan kpop? Tempat-tempat budaya dilestarikan lewat drama bertajuk sejarah, sedangkan keindahan alam terbalut rapi dalam lantunan lagu yang easy listening. Banyak teman-teman yang sering bertanya: Dengerin lagu korea ya? Emang ngerti artinya? Well, sebagian kecil mungkin aku agak paham dan kalau sudah sering nonton drama pasti juga bisa ikut bersenandung sedikit. Tapi, bahasa bukan perkara besar jika sudah berhubungan dengan seni, bukan?
(video music Yoona SNSD - Deoksugung Stonewall Walk)
Bahkan, hanya sesederhana jalanan berdinding batu (Stonewall road) saja dipromosikan dengan baik melalui lagu Yoona SNSD – Deoksugung Stonewall Walk. Jalan yang awalnya penuh mitos (pasangan yang berjalan di sana akan berpisah) justru semakin ramai akan pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri.
1.      Tidak hanya drama, reality show di televisi korea juga sangat menghibur
Misalnya running man, yang unggul dengan games-games unik dan hadiah emasnya. Siapa sangka kalau setiap games yang dilakukan member running man selalu diuji coba terlebih dahulu oleh produsernya, untuk memastikan bahwa setiap games yang penuh resiko itu layak dan aman untuk ditayangkan. Kemudian, siapa yang tahu kalau di balik polah lucu bayi-bayi di The Return of Superman, ada pelajaran penting yang bisa diambil oleh setiap pasang orang tua di seluruh dunia? Terdapat nilai-nilai parenting yang sangat bisa dipahami dari reality show ini. Selain itu, tayangan ini juga diharapkan mampu mendorong pasangan muda Korea untuk memiliki keturunan. Tujuannya supaya regenerasi penduduk Korea terus berlangsung.
1.      Terakhir, the great Samsung impact
Cerita tentang keberhasilan Samsung mengalahkan Nokia bahkan Sony di pasar elektronik khususnya smartphone tentu sudah tidak asing didengar. Mereka patut bangga akan keberhasilan Samsung dalam menyumbang 25% GDP Korea. Wow!
Konon katanya, yang membuat Korea mampu menguasai gadget seluruh dunia adalah semangat untuk terus menghasilkan produk baru. Inovasi adalah hal yang diutamakan, dan seringkali CEO muda lah yang sukses menciptakan terobosan-terobosan baru dari waktu ke waktu. Anak-anak Korea sedari dini sudah dijejali dengan visi misi untuk menjadi bangsa nomor 1. Tidak seperti industry Jepang yang kaku akan senioritas, Korea justru berharap besar pada pemikiran pemudanya. Maka dari itu, berhubungan dengan alasan nomor 5, bangsa Korea menginginkan regenerasi terus berlangsung demi memunculkan bibit-bibit baru yang unggul. Oh iya, suka lihat juga kan di drama korea kalau yang jadi big boss/general manager/CEO/director di industri atau perusahaan itu Oppa-Oppa, bukan Ahjussi Ahjussi? Hehehe itu juga mungkin sebgai bentuk motivasi untuk para pemuda supaya berani bermimpi besar :)
 
(produk samsung diiklankan pula lewat drama-drama korea)
Oke, sekian dulu sharing kali ini. Semoga bisa mengubah sedikit stigma kalian semua tentang hal-hal yang berbau korea. Yeah, aku memang seorang fangirl yang demen nonton cowo ganteng, tapi di balik itu semua.. ada banyak alasan yang membuat salah satu negara macan Asia ini menginspirasi banyak pemuda. Tenang saja, sejauh apapun melangkah aku akan tetap cinta Indonesia, kok. Hehe, semoga bermanfaat! Anyyeong :D

Kamis, 22 Oktober 2015

Teenage Dream!


Tulisan ini dibuat sambil melototin satu album full Sherina yang bertajuk Andai Aku Dewasa. Kebetulan lagu yang sedang diputar kali ini berjudul “Bermain Musik”, and suddenly I feel I can’t really move on from my childhood.
Masa kecilku begitu menyenangkan. Lahir dan tumbuh besar di kota megah, Surabaya, dengan segudang teman-teman baik yang senantiasa setia bermain bersama siang hari sepulang sekolah. Setiap liburan tidak rewel berkunjung di rumah Simbah di Solo karena punya begitu banyak saudara sepupu seumuran. Dan yang terpenting yang sampai saat ini membuatku tak henti bersyukur adalah, lahir dari keluarga besar yang menjunjung tinggi  nilai-nilai agama islam di setiap lentera kehidupannya. Alhamdulillah alla kulli hal.
Motifku menuliskan topik ini adalah karena sejak masuk BEM KM, aku dan Ilma dipanggil dengan nickname “TEENS” yang berarti = TEENAGERS. Kami berdua diterima di BEM KM pada usia 18 tahun an. Tahun ini saya memasuki usia 19 tahun dan Ilma 20 tahun (baru kemarin akhir September). Awalnya, hanya teman-teman 1 Kementerian PSDM saja yang memanggil kami “teens”, namun lama kelamaan kakak Presma (kak Dadan, yang kini menjadi supervisor kami di management TEENAGERS”, kak El, kak Dila, kak Ajeng, dan sebagian besar teman-teman di BEM KM memanggil kami demikian.

Misi kami adalah : “Menjadi remaja yang menginspirasi dunia” #yoiiih
Jargon kami adalah: “Muda belia, cantik jelita, multitalenta!” #okeabaikan
Sekarang, playlist saya memutar lagu berjudul Tunjuk Satu Bintang. Pernah dengar? Yang dinyanyikan oleh 5 besar finalis Idola Cilik Season 1; Sivia, Gabriel, Zahra, Angel, Kiki. Well, now they’re turning to their own universities, which means they’re not ‘cilik’ anymore. And me too.
Ngomongin idola cilik, aku pernah ngefans berat sama Debo dan Obiet di Idola cilik 2 sampai-sampai dulu ingin sekali daftar ajang pencarian bakat yang digelar RCTI tersebut. Harap maklum lah, waktu itu masih kelas 7 SMP jadi pas zaman labil-labilnya. Bahkan, dulu sempat bersama sepupu kesayangan Isna pergi ke acara perayaan natal di Semarang hanya untuk nonton Obiet live! #edan :D Hahaha, sambil liburan juga sih waktu itu. Anyway, I never regret those experiences til now~ keke
Yang paling ababil sepanjang hidup bagi seorang remaja adalah : menentukan cita-cita.
Yeah, percaya atau tidak setiap orang pasti beribu kali pernah ganti cita-cita seiring dengan tahap pendidikan yang dienyam. Studi kasus, diri sendiri..
1.       TK, ingin jadi dokter karena doktrin orang tua. Biasa lah “anak kecil pinter kalau besar jadi dokter”
2.       Awal masuk SD, ingin jadi pramugari karena segalanya terkesan keren. Naik pesawat kemana-mana, pergi ke luar negeri gratis, cantik semampai bak kutilang (kurus tinggi langsing), jago bahasa inggris.
3.       SD akhir-akhir, ingin jadi dokter (lagi) karena berhasil jadi semifinalis lomba cerdas cermat dokter kecil tingkat provinsi #gaksombong #pameraja #bedatipis
4.       SMP, nah ini yang paling beda. Aku ingin jadi sutradara film! Woohooo J Sebuah cita-cita langka untuk anak SMP kan? Alasannya sederhana, karena sering nulis fiksi sehingga ingin fiksi tersebut divisualisasikan secara nyata.
5.       Ehm, selingan ingin jadi penyanyi juga pernah karena virus Idola Cilik dan kebetulan tergabung di Tim Paduan Suara sekolah sejak SMP-SMA. Belum lagi dukungan Bapak yang waktu itu belikan anak bungsunya keyboard.
6.       Awal SMA, ingin jadi guru agama islam. Terinspirasi dari Ibu yang sekarang guru tahsin dengan bayaran pahala dunia akhirat. Aamiin
7.       SMA, ingin jadi dokter (lagi lagi). Bagi anak SMA di kelas akselerasi, berhasil masuk ke perguruan tinggi jurusan Kedokteran adalah rangking 1. Siapa yang nggak tergiur dengan prestige sekeren itu? Selain itu, Ibuku dulu sangat ingin anaknya ada yang jadi dokter. Dulu Ibu hamper jadi dokter, tapi karena keterbatasan biaya akhirnya memilih untuk jadi perawat mata :”)
8.       Akhir SMA, ingin jadi pegawai BPOM RI. Karena waktu itu sudah memutuskan untuk daftar IPB Teknologi Pangan. Dan waktu itu aku dengan songongnya optimis kalau bakal keterima di pilihan pertama HAHAHA :p
9.       TPB, setelah merasa salah jurusan dan kebetulan berkutat di Kominfo BEM TPB alhasil aku merasa ingin mencoba peruntungan jadi jurnalis. Sama seperti Bapak, Tante, Om, ahaha. Dan disinilah aku nekat daftar SNMPTN lagi dengan pilihan pertama kedua kedokteran, dan ketiga komunikasi.
10.   Masuk fakultas, yang berarti aku gagal dong SNMPTN? Hehehe
Mengenal istilah konservasi dan idealisme-idealisme yang begitu mengakar, aku pun kemudian ingin jadi konservasionis. Terutama yang fokus sama perlindungan hiu.
11.   Sekarang, setelah semua tetek bengek kehidupan kuliah yang menjemukan ini.. Aku semakin bingung menentukan pilihan mau jadi apa. Sarjana saja belum kelar, eh ditambah dengan pascasarjana yang sudah mulai kuliah… Melihat kakak pertamaku yang dengan barokahnya berhasil lolos jadi PNS di Kemenhut setelah seleksi 2 orang dari 7000 an orang, akhirnya terbesit juga ingin jadi PNS. Orang-orang bilang sih baiknya jadi dosen atau peneliti. But those duties sound tiring just by hearing its’ name…
Menjadi seorang remaja adalah sebuah proses yang kritis dalam kehidupan manusia. Kenapa? Karena sering kali remaja suka goyah pendirian dan rentan pengaruh lingkungan. Umumnya, karena merasa muda jadi remaja inginnya masih senang-senang saja. Nggak mikirin itu uang dihambur-hamburkan punya siapa, ini ujian nyontek kesana-sini apa nggak takut dosa, dan lain-lain. Makanya, akan sangat penting punya idealisme yang kuat untuk dipegang setiap saat. Senang-senang boleh, tapi dalam batas wajar saja dan kalau biasa setiap kegiatan disalurkan pada hal yang positif.
Remaja adalah masa-masa pembentukan karakter masa depan kita, guys. Dan remaja yang baik seharusnya bisa mencerminkan karakter seorang pemuda, yang dipundaknya bergantung amanah besar untuk memajukan bangsa suatu saat nanti. Nah, karena tulisan ini semakin ngaco, oleh karena itu berakhirlah tulisan ini dengan teenage dream seorang Aulia Maghfirotul yang sederhana saja: menjadi istri shaliha #eaaa ^o^

Minggu, 16 Agustus 2015

Tentang Gie dan Saya



Saya nggak pernah tahu apa tujuan Riri Riza dan Mira Lesmana membuat film Gie. Tetapi di prolog film Gie tertulis bahwa film tersebut hanya sebuah interpretasi dari perjalanan hidup seorang Soe Hok Gie, seorang pemuda keturunan CIna yang hidup di masa pergolakan dan merekamnya dalam catatan harian.
Niatnya, saya cuma iseng ingin nonton film Gie (untuk yang entah ke berapa kalinya) karena hari ini 17 Agustus. Saya sudah mahasiswa, jadi tidak ikut lomba, upacara, atau selebrasi hari ulang tahun Indonesia lainnya. Lebih-lebih, saya sedang berlibur di tempat saudara saya sehingga tak banyak yang saya lakukan di hari libur nasional ini.
Di sini saya malu mau bicara tentang nasionalisme. Saya malu sama sosok Gie yang walaupun bukan aseli orang Indonesia tetapi mencurahkan seluruh cinta di hidupnya untuk Indonesia hingga akhir hayatnya. Dah say amah apa atuh, umur saya sudah 19 tahun dan saya merasa belum melakukan apapun untuk negara yang katanya sangat saya cintai ini.
Jadi , sambil berpikir tentang kontribusi apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia, izinkan saya bicara tentang idealisme saja. Saya sering menilai diri saya sendiri idealis. Menjadi idealis bukan sebuah kelebihan atau kekurangan pribadi seseorang (kata kakak saya, dia psikolog) karena idealisme orang berbeda-beda. Tetapi, sejauh ini saya berusaha untuk menjadi idealis atas dasar islam meskipun banyak kekurangan di sana sini. Saya tahu, Allah Maha Melihat dan setiap waktu di kanan kiri saya ada malaikat yang mencatat semua amal dan dosa saya. Jadi saya selalu mendoktrin diri sendiri untuk sebisa mungkin memegang ideologi islam kapan pun dan dimana pun saya berada.

Rabu, 27 Mei 2015

tulisan nggak penting



Belakangan gue baru ngepoin (red: kepo) sama blog salah satu kakak kelas. Well, isi blognya kebanyakan memang tentang curhatan sih, tapi toh buktinya gue dan beberapa temen yang kepo maksimal tetap baca. HAHAHA :D Dulu gue udah berniat untuk nggak lagi posting isi hati ke blog, karena kata tante gue hal itu gak akan berguna buat dibaca orang lain. Ya kan? Tapi entah kenapa, the feeling of not writing is pathetically much worse than writing you self-story. Jadi di pagi yang cerah ini gue pengin sedikit kembali egois untuk curhat lewat blog ini daripada nggak keisi sama sekali. Kali aja suatu saat ada orang iseng atau adik-adik kelas yang kepo sama gue dan memutuskan untuk baca blog ini *ngarep*
Prolognya kepanjangan, ya? Hehe itu baru masalah pertama. Masalah keduanya, sekarang gue bingung harus memulai dari mana. Many things happened in just a very short time. Mulai dari masuk BEM KM dengan embel-embel mengkhianati BEM Fakultas lah, dititipin amanah sama Menteri buat pegang proker sama partner jaman TPB, masuk Laskar Inspirasi, teman-teman yang sudah mulai penelitian di saat gue masih bingung menentukan topik, konflik personal sama dominansi non system, tawaran fast track, ganti murobbi untuk yang ke-sekian kalinya, dan segala hal memusingkan lain yang akhirnya berhasil membuat isi otak gue bercabang.
Beruntungnya, Allah masih begitu sayang sama gue karena dengan semua aktivitas super padat dan menyita hidup tersebut gue masih dikaruniai kesehatan jasmani dan ruhiyah yang patut gue syukuri. Baru 3 hari ini sejak pulang fieldtrip dari Sukabumi akhirnya gue jatuh sakit. Mungkin virus-virus yang menyerang tubuh gue udah terakumulasi sejak terakhir kali gue sakit. Pertanyaannya, kapan terakhir gue sakit? Gue sendiri udah lupa saking lamanya. Inilah yang jadi alasan kenapa kadang gue berfikir, apa manusia itu berhak untuk jatuh cinta sama selain diri-Nya? Karena cinta-Nya yang begitu hakiki dan tanpa pamrih itu selalu berhasil bikin hati gue meleleh atas rasa syukur dan sedih atas rasa bersalah mengingat dosan gue tumpuk undhung.