Senin, 18 Februari 2013

Tentangmu, Hana...


Al, sukses ya. Aku mencintaimu karena Allah..”
Saya baru selesai sholat maghrib ketika satu sms dari sahabat saya bernama Hana Maulida, atau yang kerap kali dipanggil Nana, masuk. Entah kenapa, atau mungkin karena suasana hati saya yang belakangan terlampau melankolis, saya seketika menitikkan air mata. Bahkan, ketika saya hendak mengaji air mata saya semakin tumpah, saya menangis. Padahal, baru tadi siang saya bertemu dengan Nana di sekolah sma dulu. Tetapi rasanya trenyuh ketika saya membaca ulang isi sms tersebut yang mungkin bagi Nana hanya guyonan saja, karena saya dan Nana baru beberapa hari yang lalu membiasakan kalimat “Aku mencintaimu karena Allah” ini, karena sebelumnya kami begitu asing dan kagok untuk saling berkata demikian.
Namun, seperti tersengat sesuatu (hal yang sama yang membuat saya menitikkan air mata) saya kemudian menyadari betapa Allah sayang sama saya. Saya memaknai benar isi sms sahabat saya tersebut. Kasih yang Beliau limpahkan tak hanya datang langsung begitu saja, melainkan juga tersalurkan lewat orang-orang di sekitar saya yang selama ini banyak menyemangati saya ketika saya sedang down. Seperti saat ini.. *duh, curcol* hehehe
Maka malam ini, saya ingin sedikit bercerita tentang sahabat saya yang satu ini.
Nana adalah salah satu orang yang sering jadi tempat pelarian saya ketika saya sedang banyak masalah. Kami berkenalan 3 tahun yang lalu di kelas akselerasi SMA 1 Karanganyar *oke, ini terlalu bertele-tele* Hahaha :D

Kamis, 31 Januari 2013

buat adik-adik SMA, fighting!

Malam ini saya sedikit ingin berbagi cerita saja. Mumpung tangan sedang gatel dan kali ini saya nggak akan curhat karena inshaAllah tulisan kali ini bermanfaat kok :) *hehe semoga yaaah*
Jadi selama kurang lebih 2 minggu ini libur usai UAS dan saya pulang ke kota asal, Surakarta (Karanganyar lebih tepatnya), Alhamdulillah liburan saya cukup produktif. Artinya, saya tidak berleha-leha dan nyantai-nyantai di rumah, bermalas-malasan tanpa gaweyan atau main nggak jelas karena gabut dengan teman. TIDAK! hohoho~ Saya diamanahi oleh rektorat IPB di bawah naungan organisasi mahasiswa daerah asal  (OMDA)Solo Raya untuk melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah di Solo dan sekitarnya.
Dan disinilah cerita saya dimulai...

Senin, 28 Januari 2013

Tentang Jogja, Aku Bercerita

Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Istimewa Negrinya, Istimewa Orangnya
Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia

Rungokna iki gatra saka ngayogyakarta
Nagari paling penak rasane koyo swarga
Ora peduli donya dadi neraka
Neng kene tansah edi peni lan merdika
Tanah lahirkan Tahta, Tahta untuk Rakyat
Dimana Rajanya Bercermin di kalbu Rakyat
Demikianlah singgasana bermartabat
Berdiri kokoh tuk mengayomi rakyat
Memayu hayuning bawana
Saka jaman perjuangan nganthi merdika
Jogja istimewa bukan hanya daerahnya
Tapi juga karena orang-orangnya
Jogja istimewa untuk Indonesia
(Jogja Istimewa by Hip Hop Foundation)

Sekarang saya sedang berada di dalam bilik nomor 13 sebuah warnet ternama di Jogja, menunggu kopian film dan drama korea yang kurang lebih satu jam lagi kelar. Hahaha :D
Untuk membunuh waktu yang berjalan lambat, saya memutuskan untuk bercerita sedikit tentang kota Jogjakarta. Setelah beberapa ide bermunculan dalam perjalanan saya kemari tadi, rasanya tangan sudah gatak dan tahan untuk segara mencurahkan semua perasaan senang saya pada kota pendidikan ini.

Bagi saya, Jogja begitu istimewa :)

Jumat, 07 Desember 2012

What My Mother Taught Me (part 1)


What my mother taught me...
Yesterday my sister posted “What my father taught me” in her blog. And I just wondered what my mom taught me since I born till today I’m standing far away from her.
Mom.
An unbelievable person, like a superwoman. She is wonderful. She’s my everything, my reason why I’m here in Bogor, and her happiness is my future dream.
There were some conditions when I had a problems in my class, my friends got me so damn depressed and what my mom said to me when I cried was “be strong! Don’t be like this. Don’t be too much perceive unimportant people..”. She said it in a little harsh mode, haha :D but really, she taught me to be a strong girl. Crying is OK, but be mature.. I’m maybe still not 17 yet, but I don’t like being a crybaby.
Second, when adzan is heard, my mom always screams loudly from my living room “Nduk… Ayo sholat berjamaah….” And I’d be “Err, mom…” with this kind of emotion -_____- kekeke ^^ She taught me to pray together on time. And this is absolutely the power of islam: Jama’i (togetherness), right?

Minggu, 02 Desember 2012

guiltiness


Minggu, 2 Desember 2012
Jangan pernah ngecewain Teh Zamroh lagi, bikin Kak Vivi nangis lagi, bikin Febi sama Eci sesenggukan lagi, JANGAN :”)
Itu adalah janji yang aku tulis di dinding samping tempat tidurku baru semalem, dalam kondisi masih berlinang air mata, badan gemetar karena rasa bersalah. Padahal insiden yang semalem kejadian di astri itu sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama aku, tapi entah kenapa ngeliat kak Vivi cerita di depan lobi sambil nangis bikin pertahananku ikut roboh. Aku nangis bahkan jauh lebih parah daripada kak Vivi sendiri.
Aku sampe lupa, kapan terakhir kali aku nangis sampe sesenggukan kaya gitu, sampe pusing kepala dan mata kerasa pedes banget bahkan sampe keesokan harinya mata sembab dan perut kerasa lapeeerrr banget. Dan ujung-ujungnya aku flu-pilek sekarang. Alhamdulillah :)

Minggu, 11 November 2012

Dilemma


“Kak.. bagi seribuannya kak…”
Begitu kata salah seorang anak kecil bertubuh kurus meminta sedikit sedekah dariku. Dan malangnya, aku hanya bisa menjawab dengan gelengan disertai senyum samar tipis yang kemudian disambut pahit oleh anak kecil tersebut.
Dalam hati, miris sekali rasanya melihat betapa menyedihkan nasib negeriku, Indonesia. Anak-anak kecil yang entah dapat ilmu darimana, meminta-minta dengan cara yang memalukan di pinggiran jalan dan tempat-tempat umum.
Seketika itu juga, hatiku tergerak untuk berdoa padaNya, memohon;
“Ya Allah, merdekakanlah seluruh rakyat di negeriku yang tercinta ini.. Jangan ada lagi peminta-minta seperti ini, peliharalah kami semua dalam naungan kekayaan hati dan materi, karuniai kami pemimpin yang amanah dalam menjadi khalifah di bumi ini, lindungi kami setiap waktu, jaga kami semua dalam kasih sayangMu dimanapun ya Rabb…”
Dalam diam, sambil menunggu sang kakak datang dari Bekasi (saat itu aku sedang ada di Stasiun Bogor) tanpa sadar aku menitikkan air mata. Kalau bahasa gaulnya mungkin nyesek, sekaligus penasaran. Bertanya-tanya dalam hati, siapa yang mengajari anak-anak kecil ini ngemis?
Tidak hanya sekali-dua ini aku lihat anak-anak kecil (terlebih sejak saya hijrah ke kota besar) berlalu lalang di pagi hingga bahkan malam hari untuk mencari nafkah dengan cara yang tidak lazim itu. Mereka berlarian kesana-kemari mengantongi beberapa lembar dan receh uang hasil ngamen atau meminta-minta di jalan (bahkan masih berseragam sekolah). Ingin sekali rasanya memanggil mereka, berdialog atau kalau memungkinkan memediasi mereka untuk tidak lagi melakukan hal-hal demikian. Tetapi yang ada di bayanganku adalah kondisi seperti ini.
Kalau dipanggil, mereka pasti akan mengira akan diberi sedekah olehku.
Kalau ditanya, “kenapa ngemis?” pasti jawabannya adalah karena mereka BUTUH.
Kalau dilarang, pasti jawabannya sama “lalu kami mau dapat makan darimana?”
Sedangkan di sisi lain, mereka mengumpulkan uang itu pada Ayah-Ibu mereka. Kemudian parahnya, Ayah-Ibu mereka menggunakan uang itu untuk membeli rokok, berjudi, membeli pulsa, dan lain-lain hal yang tidak berguna dibandingkan menyekolahkan mereka!
Astaghfirullahaladzim..
Dulu, jujur, aku sering beberapa kali memberi mereka sedikit uang. Alasannya jelas, karena iba. Tetapi lama kelamaan, ketika kakakkku melihat aku mengasihani mereka, kakakku dengan logis menjawab “Jangan memberi pengemis itu uang, terlebih kalau pengemisnya anak-anak. Mereka nanti jadi terbiasa dan ketergantungan untuk mencari nafkah dengan cara itu. Gampang banget, tinggal ngathung udah dapet duit…”
Ya, jawaban kakakku ada benarnya. Tidak baik membiasakan mereka meminta-minta seperti itu.
Tapi….
Ya Allah, sungguh dilemma yang berat. Ingin sekali rasanya menagih langsung pada para pemimpin itu pasal 34 ayat 1 UUD 1945, 

"Fakir miskin dan anak-anakyang terlantar dipelihara oleh negara."

serta mengingatkan tentang QS Al Baqarah 30.

"Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Tidakkah mereka takut diminta pertanggungjawaban akan anak-anak yang mengemis tadi nanti di akhirat? Wallaahu alam. Biarkan Allah Yang Mahaadil yang menjadi hakim bagi mereka semua kelak…