Jumat, 04 April 2014

bizzare

Kaku.
Sudah lama nggak menuliskan sesuatu di halaman blog ini.
Sebenarnya banyak hal yang ingin aku share tentang pengalaman hidup yang berarti belakangan ini.
Tapi udah terlalu lama nggak nulis, udah terlalu banyak kejadian hebat yang terjadi di hidupku.
Semester baru, mata kuliah baru, kost baru, organisasi baru, teman-teman baru, lingkungan baru, pengalaman baru.
Jadi bingung mau nulis yang mana.

Time flew too fast, everything's changed but life doesn't stop for anybody.
Satu persatu kejadian berubah jadi memori. Manusia layak bersyukur sebanyak mungkin karena Tuhan menghadiahkan apa yang kita sebut ingatan, tanpa kita minta. Bagaimana mungkin kejadian bertahun-tahun lamanya masih bisa kenang kalau itu semua bukan kehendak Tuhan? Bagaimana mungkin kita bisa jadi sehebat sekarang kalau Tuhan nggak mengizinkan kita belajar dari masa lalu?
Yang mengherankan adalah, betapa kerasnya hati yang sampai saat ini belum bisa berdamai dengan masa lalu. Atau betapa bodohnya pikiran yang sampai detik ini belum mau menerima ketentuan-ketentuanNya.
Banyak hal yang bisa dilakukan saat ini, yang jauh lebih berguna, tetapi terkadang manusia memilih diam hanya untuk mengenang masa lalu yang tidak bisa diubah. Penyesalan satu dan yang lain masih menghantui dan menghalangi jalan kita untuk melihat ada apa di depan sana.

Ada satu quote dari salah seorang teman baikku, katanya:
"Kadang mata kita hanya tertuju pada karya Tuhan yang besar atas hidup orang lain."
Dalam hati, aku membenarkan. Manusia kadang mendadak buta, tidak mampu melihat bahwa Tuhan juga sudah membuat karya yang begitu indah di kehidupan kita saat kita sibuk memandangi karya Tuhan di kehidupan orang lain yang menurut kita jauh lebih indah.

Sabtu, 14 Desember 2013

Kontribusi Tanpa Kenal Waktu, Ruang, dan Keadaan


Saya tunggu semuanya ya di BEM Keluarga Mahasiswa 2015-2016..” kata Bang Sun alias Sunarya, (mantan) Ketua BEM TPB IPB 49 yang sejak 20 Desember tahun lalu melantik 91 orang sebagai keluarga barunya. Kami. Anggota BEM TPB IPB 49 Kabinet Inspirasi J

Begitu kalimat itu terlontar dari Bapak, -begitu saya menyebut Sunarya- rasanya ada yang bikin merinding. Entah apa itu. Semacam panggilan dari masa depan yang harus dipersiapkan bekalnya dari sekarang. Dari TPB, menuju fakultas, kemudian pada tingkat akhir mengabdi untuk Universitas.


Hari ini adalah hari dimana kami semua meretas kontribusi terakhir di masa satu tahun kepengurusan kemarin. Sidang Umum II dilaksanakan di RK Pinus lt 2 oleh DPM TPB yang agendanya adalah presentasi LPJ program kerja BEM, pembacaan SPPK (penilaian kinerja), dan demisioner BEM TPB IPB 49. Sejak 1 atau bahkan 2 minggu terakhir perasaan mellow-dramatis sudah bisa kami rasakan, entah itu di sekret, di grup facebook, saat kumpul bareng di luar kampus.. topik tentang demisioner menjadi yang paling hangat dan gemar dibicarakan, sekaligus dihindari.

Kenapa?

Jumat, 15 November 2013

Pacaran yang Aneh

Tentang PACARAN
Beberapa minggu terakhir aku disibukkan dengan agenda kampanye salah satu teman yang mencalonkan diri menjadi ketua bem fakultas. Dia memintaku menjadi salah satu ‘tim sukses’ yang nantinya akan berusaha sebisa mungkin mencari dukungan ke sana-sini, mengerahkan banyak massa untuk ikut pemilihan raya wilayah yang sebentar lagi akan digelar.
Anggota tim sukses tersebut cukup banyak, salah satunya sebut saja Bayu (oke, nama samaran). Setelah beberapa minggu bekerja sama, akhirnya kemarin kami sampai pada puncak kampanye yaitu ketika diadakan karnaval, mengarak pasangan calon ketua-waketua bem ini keliling fakultas.

Selepas itu, di meja praktikum tepat setelah karnaval berakhir dan aku kembali ke dunia nyata (kuliah)..
“Aul, Bayu ikut Tim Sukses?” tanya Fani (nama samaran juga), yang baru-baru ini aku tahu kalau dia pacarnya Bayu.
“Iya.. Cie.. Kenapa, fan?” jawabku santai.
Eh, si Fani kok mendadak jadi galak. “Keluarin aja dia dari TS..” Dengan muka jutek, tanpa memandangku.
“Lho, kenapa?” Heran, dong. Aku kira si Fani ini bercanda, ternyata dia serius :O
“Aku nggak suka dia ikutan begituan, semua yang aku larang kalau dia langgar pasti dia bakal celaka. Lihat aja.” Jawabnya sinis.
“Heyyy.. Jangan lahhh...” Menurutku, Bayu bagus kok kinerjanya.  Bayu aktif mempromosikan calon pasangan ketua bem yang kami usung. Dan kami juga sedang berusaha buat memenangkan calon pemimpin yang paling ideal dan terbaik buat fakultas. Apanya yang salah?
“Nggak, bilangin aja. Ingetin dia. Ini udah komitmen.” Tambah Fani
Aku pun merasa terpojokkan. Katanya sayang, kok mendoakan yang tidak baik?

Well, di sini aku awalnya mengira kalau Fani ini marah karena mungkin waktu yang Bayu punya jadi sedikit tersisa karena kegiatan kami sebagai tim sukses memang cukup padat. Namun seusai percakapan di atas dan praktikum pun berakhir, aku lihat Fani buru-buru pulang dengan mata sedikit sembap dan hidung merah akibat menahan tangis. Selama praktikum berlangsung pun dia bersikap cuek dan cenderung diam, beda dengan biasanya.
Duh.. ada yang janggal, nih. Batinku sampai akhirnya saat aku menulis tulisan ini, akhirnya aku bisa melihat dengan kacamata yang cukup jelas sebuah opini mengenai dua orang yang saling mengikatkan diri dengan status PACARAN.

Senin, 02 September 2013

Mbah Wiji, Seorang Sosok Inspiratif


“The things you do for yourself are gone when you are gone, but the things you do for others remain as your legacy.”  Kalu Ndukwe Kalu

Hal-hal yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri akan hilang ketika kamu hilang, tetapi hal-hal yang kamu lakukan untuk orang lain berbekas sebagai warisanmu. Kurang lebih, begitu terjemahan kalimat mutiara yang saya cuplik dari N.D. Kalu, seorang pesepakbola Amerika yang kini sudah diberhentikan. Sebagai judul tulisan saya kali ini, sepertinya saya sudah terlalu lekat dengan kata “inspirasi” sejak tergabung dalam BEM TPB Kabinet Inspirasi, hehe #apasih. Maka dari itu, sebagai wujud karya dari tagline yang selalu kami usung, “Inspirasi Membangun Negeri”, izinkan saya untuk bercerita tentang sosok yang sangat menginspirasi saya saat ini.


Namanya Mbah Wiji (tengah), seorang penjaga makam yang sejak tahun 70an sudah mengabdikan dirinya di pemakaman Gemolong –dekat rumah Simbah. Lebaran kemarin, seperti kebiasaan yang selalu keluarga besar saya lakukan, kami berziarah ke makam Simbah Putri bersama-sama. Seusai berdoa, kami selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam beberapa kerabat lain yang kami kenal. Dalam hal ini, terkadang saat kami lupa dimana letak makam kerabat tersebut, Mbah Wiji dengan ingatannya yang tajam selalu bisa memberitahu kami letak makam orang-orang yang bahkan sudah sekian lama meninggal.

Minggu, 28 Juli 2013

Ramadhanku... (part 1)



فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kau dustakan?”

Tentu ada begitu banyak alasan mengapa ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam satu surah favorit Ibu, QS 55 Ar-Rahman. Salah satu alasannya jelas, teguran bagi kita manusia yang tak kenal puas supaya bersyukur atas segala pemberian cuma-cuma dari Allah SWT.
Surah ini saya jadikan pengantar untuk tulisan kedua saya di bulan Juli ini karena saya benar-benar merasa Allah sangat memanjakan saya di Ramadhan ke 16 saya kali ini. Mungkin beribu lafadzh hamdalah tak cukup untuk menggambarkan betapa menggembirakan Ramadhan kali ini, yang selama kurang lebih 15 hari justru saya lakoni nun jauh daru rumah, di Bogor.
Ya, ketika liburan akhir semester ini teman-teman saya yang lain sudah menikmati masakan orang tua masing-masing, tidur di kasur yang empuk dan nyaman, sahur dan berbuka dengan keluarga di rumah, saya justru masih meringkuk di kampus. Dibilang aktivis sepertinya berlebihan, saya hanya ingin mengisi liburan dan Ramadhan saya dengan hal yang bermanfaat dan membuahkan hasil. Meski seringkali pula saya merasa homesick dan sempat jatuh sakit sebelum Ramadhan datang kemarin karena kangen rumah, tapi saya merasa bersyukur Allah tetap menjaga jasmani dan rohani ini untuk kuat menjalankan amanah sebagai panitia masa perkenalan kampus adik angkatan J
Persiapan untuk event sebesar ini di IPB tentu tidak main-main, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang pantang mundur karena event ini dimonitori langsung oleh Direktur Kemahasiswaan. Kebetulan saya ditempatkan di divisi acara, yang setiap hari ada undangan untuk hadir ke SC (Student Center) melaksanakan satu agenda yang bisa diulang berkali-kali di hari yang sama; RAPAT.

Kamis, 11 Juli 2013

Jawaban Allah...

Senin, 8 Juli 2013 menjadi salah satu hari yang aku tunggu-tunggu.
Ya, pengumuman SBMPTN jatuh pada hari tersebut tepatnya pukul 17.00 WIB.
Aku yang tahun ini mencoba peruntungan sekali lagi untuk mewujudkan keinginan kedua orang tuaku, sekolah kedokteran, mulai merasa tidak tenang pada H-3jam menuju pengumuman. Entahlah, padahal hari-hari sebelumnya aku sudah merasa siap menerima semua keputusan terbaik-Nya. Sampai-sampai paginya setiap ada teman yang bertanya, "Gimana perasaannya, Aul?"
"Biasa saja. Hehehe" kataku sambil cengengesan.
Aku sih, jujur tidak begitu berharap (pada awalnya). Tetapi... setelah tahu jawaban Allah seperti ini,


tes..
Ternyata aku tetap menitikkan air mata! Waktu itu posisinya aku sedang sendiri di kost an dan hujan turun begitu deras. Rasanya.... pundung banget.
Meksipun aku sudah memperkirakan hal ini, tetap saja ada sepotong rasa kecewa yang hinggap di hati karena ternyata selama ini aku merasa hanya memberi harapan palsu pada kedua orang tuaku. Aku mengikuti SBMPTN tanpa ada persiapapan sama sekali, mengerjakan soal dengan apa adanya, pokoknya hanya bermodalkan niat bonek, deh. Padahal, mengecewakan orang tua adalah satu hal yang paling aku hindari seumur hidupku.
Anehnya, pada detik itu juga, setiap orang yang bertanya lewat pesan singkat ataupun telepon tidak satupun aku respon. Satu hal yang terlintas; aku ingin segera mengabari teman dekatku, Ani dan teman-teman satu departemen di BEM, Fokustik.

"Aku tetap kuliah di Bogor, An." ujarku.
"Aul, salah nggak kalau aku senang? hehehe" balas Ani via pesan singkat.

Sementara itu, aku teringat bagaimana akhir Mei yang lalu teman-teman Fokustikku begitu kecewa saat tahu aku daftar SBMPTN 2013. Bahkan mereka sempat mengadakan rapat departemen yang agendanya khusus untuk menginterogasiku, menanyakan semua hal di balik alasanku mendaftar SBMPTN tahun ini. Kemudian di antara kami terjadi beberapa crash, satu sama lain saling bergesekan karena masalah-masalah kecil. Sampai-sampai Catur dan Salsa mendoakan supaya aku tidak diterima! Hohoho
Seiring berjalannya waktu, aku bersyukur Allah masih menjaga ikatan ukhuwah kami semua. Hubungan kami semua semakin hari semakin baik dan pada akhirnya mereka semua mendukung keputusanku untuk ikut SBMPTN lagi. Mereka mengantarku pulang sampai jalan raya (sampai naik angkot) di hari kepulanganku ke Solo untuk ikut SBMPTN. Kami pun saling mendoakan ketika hari test tiba. Saat itu, aku merasakan sebuah kasih sayang yang begitu berarti dari teman-teman semua yang sedikit demi sedikit menimbulkan sebuah ragu dalam hati, apakah aku rela meninggalkan eratnya persahabatan ini?
Namun ternyata jawaban Allah memang tetap yang terbaik.
Setelah aku mengabari teman-teman semua tentang hasil SBMPTNku, komentar mereka kebanyakan adalah "bagus deh.." atau "Alhamdulillahirobbilaalamiin.." #duh
Dari sini banyak sekali hikmah yang bisa aku ambil; Lewat teman-temanku semua, Allah menyayangiku lebih dari yang aku tahu. Allah tidak ingin merenggangkan ukhuwah yang sudah terjalin antara aku dan mereka semua. Allah pula meringankan beban kedua orang tuaku, karena mereka tidak perlu memindahkan kuliah dua putrinya sekaligus (mengingat kakakku akhirnya diterima di jurusan favoritnya di Unair, Surabaya setelah satu tahun ini mengaku tidak betah kuliah di Jogja). Ternyata, rencana Allah jauh lebih indah dari rencana kita semua...
Last but not least, teruntuk Ibu dan Bapakku tercinta..
Maafkan anakmu yang tidak mampu memenuhi keinginanmu menjadi dokter pertama di keluarga besar kita. Maafkan anakmu yang belum bisa berbakti sepenuhnya.
InsyaAllah anakmu ini akan terus berusaha menjadi yang terbaik di sini, di IPB ini, mengganti cita-cita 'dokter' dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Semoga Allah tetap meridhai jalanku ya, Bu.. Pak...

Kamis, 16 Mei 2013

Aku Untuk Negeriku ;) #IMove

Lama-lama saya pengin pindah kost ke perpustakaan saja.
Hahaha! Keinginan yang konyol, bukan?
Walaupun tak semegah dan seapik perpustakaan nomor satu di Asia Tenggara (red: perpus UI), perpustakaan IPB selalu menjadi tempat favorit saya. Tidak, di perpus IPB tidak ada JCo-nya, letaknya tidak di atas danau (walaupun dekat dengan danau), dan pendingin ruangannya pun tidak begitu sejuk. Namun entah bagaimana, saya selalu merasa nyaman dan betah di sini. Buktinya saya sekarang sedang numpang nulis di sini, memanfaatkan fasilitas yang ada seoptimal mungkin. Hehehe :)

Oke, kita straight to the point aja. Tangan saya sudah gatal sejak kemarin pulang fieldtrip dari Indramayu. Banyak hal yang baru saya sadari setelah saya melihat langsung kenyataan yang ada di lapangan. And.. here is it!